Hukum Tajwid Surat Ali-Imran Ayat 190-191

Hukum Tajwid Surat Ali-Imran Ayat 190-191

Posted on

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Kali ini kita akan membahas analisis hukum tajwid dari Surat Ali-Imran ayat 190-191 dengan lengkap. Ada penjelasannya juga tentang hukum-hukum tajwid di dalamnya. Tidak lupa, kami mendoakan semoga sobat ngaji semua selalu dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apa pun pada hari ini. Hari yang amat cerah ini bisa kita manfaatkan untuk melakukan aneka aktivitas yang bermanfaat.

Banyak sekali sebetulnya aktivitas yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang memang perlu kita tambah porsi waktu bagi beberapa aktivitas yang manfaat itu. Ada yang hanya kita perlu maksimalkan saja. Tanpa harus menambah porsi waktunya. Hal itu disebabkan waktu kita dalam sehari semalam itu hanya dua puluh empat jam saja. Tidak lebih dari itu. Aktivitas terkait Al-Quran adalah salah satu yang perlu kita beri porsi lebih.

Banyak hal yang terkait dengan Al-Quran itu. Sebab Al-Quran itu kitab sucinya umat Islam. Petunjuk kehidupan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti pada kali ini kita akan mengkaji tentang hukum tajwid dari ayat Al-Quran.

Hukum tajwid Surat Ali-Imran ayat 190-191

Fokus pembahasan kita yakni pada hukum tajwid Al-Quran Surat Ali-Imran ayat 190-191. Tentu dibahas secara lengkap dengan penjelasannya pula. Baiklah sobat ngaji semuanya. Kita langsung simak saja uraiannya berikut ini.

Hukum Tajwid Surat Ali-Imran Ayat 190-191 Dengan Penjelasannya

Keterangan dari nomor-nomor di atas adalah:

  1. اِنَّ hukumnya ghunnah sebab huruf nun bertasydid, untuk cara membacanya dengan dengung serta ditahan selama 3 harakat.
  2. فِيْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf fa’ berharakat kasroh bertemu ya sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  3. السَّمٰوٰ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah sin. Dibaca idgham (masuk ke huruf sin).
    4.السَّمٰوٰ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  4. السَّمٰوٰ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf wau berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  5. وَاخْتِلَافِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  6. الَّيْلِ hukumnya Mad layin atau mad lin karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf lam berharakat fathah.
  7. النَّهَارِ hukumnya ghunnah sebab huruf nun bertasydid, untuk cara membacanya dengan dengung serta ditahan selama 3 harakat. Juga alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah nun. Dibaca idgham (masuk ke huruf nun).
  8. النَّهَارِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ha berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  9. لَاٰ hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  10. يٰتٍ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ya’ berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  11. يٰتٍ لِّاُ hukumnya Idgham bilaghunnah karena huruf ta’ berharakat kasrah tanwin bertemu huruf lam tasydid. Dibaca lebur tanpa dengung dan bunyi tanwin menjadi hilang.
  12. الْاَ لْبَابِ hukumnya Mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya panjang 2 sampai 6 harakat.
  13. الْاَ لْبَابِ hukumnya Qalqalah kubra karena huruf qalqalah qaf diwaqaf. Cara membacanya dipantulkan lebih tebal.
  14. اَلَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat kasroh bertemu ya sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  15. كُرُوْنَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ra’ berharakat dhammah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  16. كُرُوْنَ اللهَ hukumnya Tafkhim karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah berharakat fathah. Cara membacanya tebal.
  17. قِيَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ya’ berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  18. مًا وَّ hukumnya Idgham bighunnah karena huruf mim berharakat fathah tanwin bertemu huruf wau. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  19. قُعُوْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ‘ain berharakat dhammah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  20. دًا وَّ hukumnya Idgham bighunnah karena huruf dal berharakat fathah tanwin bertemu huruf wau. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat.
    22.عَلٰى hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  21. جُنُوْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf nun berharakat dhammah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  22. بِهِمْ وَ hukumnya Idhzar syafawi karena huruf mim sukun bertemu huruf wau. Dibaca jelas tidak berdengung sama sekali.
  23. يَتَفَكَّرُوْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ra’ berharakat dhammah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  24. فِيْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf fa berharakat kasroh bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  25. السَّمٰوٰتِ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah sin. Dibaca idgham (masuk ke huruf sin).
  26. السَّمٰوٰتِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  27. السَّمٰوٰتِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf wau berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  28. رَبَّنَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf nun berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  29. مَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  30. خَلَقْتَ hukumnya Qalqalah sughra karena huruf qalqalah qaf disukun dan posisinya di tengah kalimat. Cara membacanya dipantulkan secara ringan.
  31. هٰذَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ha berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  32. هٰذَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  33. بَاطِلاً hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ba berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  34. بَاطِلاًۚ سُبْحٰنَكَ hukumnya ikhfa karena huruf lam alif berharakat fathah tanwin bertemu dengan huruf sin. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf sin.
  35. سُبْحٰنَكَ hukumnya Qalqalah sughra karena huruf qalqalah ba’ disukun dan posisinya di tengah kalimat. Cara membacanya dipantulkan secara ringan.
  36. سُبْحٰنَكَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf kha berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu huruf hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Untuk cara membacanya dengan panjang selama 2 harakat.
  37. فَقِنَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf nun berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  38. عَذَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  39. النَّارِ hukumnya ada tiga macam di sini, yakni: pertama hukumnya alif lam syamsiyah sebab huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah nun. Cara membacanya idgham (masuk ke huruf sin). Kedua hukumnya ghunnah sebab huruf nun berharakat tasydid. Mengenai cara membacanya dengan ghunnah serta ditahan selama 3 harakat. Dan yang ketiga hukumnya mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Kemudian untuk cara membacanya panjang selama 2 sampai 6 harakat.

Dengan hasil analisis tajwid seperti di atas, maka kita akan terbantu dalam membaca ayat 190-191 dari Surat Ali-Imran tersebut. Belajar memang tidak ada waktu batasnya. Usia tua pun masih sangat bisa untuk dipakai menuntut ilmu. Usia tidak menghalangi mereka yang ingin menuntut ilmu. Ketika ada waktu dan kesempatan maka bisa diisi untuk belajar suatu ilmu yang bermanfaat.

Terkait dengan arti atau pun terjemah dari Surat Ali-Imran ayat 190-191 yakni:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Sebuah hal yang mesti kita ketahui berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan adanya pengetahuan mengenai tanda-tanda kekuasaan Allah di dalam penciptaan langit serta bumi akan menjadikan seseorang yang berakal semakin bertambah keimanannya. Orang-orang yang berakal selalu berpikir mengenai penciptaan bumi dan langit.

Mereka juga selalu mengingati Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaatn berbaring, duduk maupun sedang berdiri. Bila mana sobat ngaji semua sudah memahami hukum tajwid Surat Ali-Imran ayat 190-191 dengan baik serta paham akan makna dari kedua ayat tersebut maka akan menghadirkan manfaat besar. Sobat ngaji semua tentu akan lebih termotivasi dalam meningkatkan takwanya dalam kehidupan sehari-hari. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *