3 Perbedaan Kitab Dan Suhuf

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Kita sering mendapatkan pertanyaan mengenai masalah kitab dan suhuf. Memang keduanya sangatlah penting untuk dibahas. Dalam kajian kita kali ini kita akan membahasnya lebih detail. Sebelum beranjak kepada pembahasannya, ada baiknya sobat sekalian menyimak dalil tentang suhuf ini. Yakni pada Al-Quran Surat Al-A’la ayat 18-19.

Al-Quran Surat Al-A'la ayat 18-19

Ayat 18 artinya : Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,
Ayat 19 artinya : (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.

Terdapat pula dalil yang lainnya mengenai suhuf ini yaitu pada Al-Quran Surat An-Najm ayat 36-38.

Al-Quran Surat An-Najm ayat 36-38.

ayat 36 artinya: Ataukah belum diberitakan (kepadanya) apa yang ada dalam lembaran-lembaran (Kitab Suci yang diturunkan kepada) Musa?
ayat 37 artinya: Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?
ayat 38 artinya: (yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

Antara kitab dan suhuf memang memiliki perbedaan. Setidaknya terdapat 3 perbedaan kitab dan suhuf tersebut, yaitu:

  1. Mengenai bentuknya. Kitab bentuknya sudah dibukukan dengan baik. Sedangkan untuk suhuf bentuknya masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah.
  2. Mengenai isinya. Isi dari kitab jauh lebih lengkap dibanding dengan suhuf.
  3. Mengenai masa berlakunya. Kitab memiliki masa berlaku yang jauh lebih lama. Sedangkan untuk suhuf masa berlakunya tidak lama.

Dengan uraian di atas kita akan memahami dengan baik perbedaan dari kitab dan suhuf. Akhirnya sampai di sini dahulu pembahasan kita kali ini, sampai bertemu kembali pada pembahasan yang lainnya. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Beginilah Cara Mencuci Baju Secara Islami

Beginilah Cara Mencuci Baju Secara Islami

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Sebagai seorang muslim kita mesti mengetahui berbagai hal yang penting dalam kehidupan. Termasuk di dalamnya segala kegiatan yang sering kita lakukan daam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali kegiatan kita sehari-hari itu bila kita mau merincinya. Diantara aktivitas harian itu yakni: makan, minum, mandi, buang air kecil atau besar, berjalan, masuk rumah, keluar rumah, berbicara, menyikat gigi, membersihkan rumah, merapikan kamar, memakai pakaian, melepas pakaian, mencuci piring atau gelas dan mencuci baju. Kesemuanya hampir tiap hari kita kerjakan. Aktivitas tersebut juga tidak meninggalkan doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagai contoh, kita membaca doa memakai pakaian biasa saat akan mengenakannya. Masih banyak lagi contoh doa yang mesti dibaca dalam keseharian kita.

Satu hal yang perlu kita perhatikan di dalam beberapa aktivitas tersebut yakni mencuci baju atau pakaian. Setiap kita pasti punya pakaian. Dalam setiap pakaian yang dipakai itu mesti akan kotor dan harus dicuci supaya menjadi bersih lagi. Barulah kalau sudah bersih maka bisa dipakai kembali. Namun, sudahkan anda tahu bagaimana mencuci pakaian sesuai syariat Islam? Bila mana belum tahu maka penting sekali untuk mengetahui caranya. Kalaupun sudah mengetahui maka tetap saja kita perlu mengulasnya lagi supaya menjadi lebih paham. Alangkah baiknya bila pada kesempatan ini kita menyimak uraian cara mencuci baju berikut ini.

  1. Seleksilah baju yang akan kita cuci.
    Pisahkan antara baju yang terkena najis dan bau yang hanya kotor biasa saja. Hal ini dimaksudkan agar menghindari najis yang ada di baju menyebar ke baju yang lainnya. Kita bisa membayangkan bila baju yang terkena najis dan yang bukan terkena najis dicampurkan menjadi satu. Semuanya tentu malah menjadi terkena najis.
  2. Baju yang terkena najis hendaknya dibersihkan.
    Untuk baju yang terkena najis maka sebaiknya langsung dibersihkan dahulu. Bisa dengan mengguyurkan air lalu menyikatnya dengan deterjen. Sehingga najis sudah benar-benar bersih.
  3. Mencuci baju sebaiknya dengan deterjen
    Lalu sekarang tinggal mencuci baju secara keseluruhan dengan deterjen. Uceklah baju sampai bersih. Bisa pula dengan menggunakan mesin cuci.
  4. Bilas hingga bersih
    Setelah mencuci seluruh baju dengan bersih maka perlu sekali untuk membilasnya. Membilas hendaknya dengan air yang bersih. Akan lebih baik lagi bila cara pembilasan dengan menggunakan air yang mengalir.
  5. Jemur pakaian atau baju di tempat yang kering
    Menjemur pakaian menjagi kegiatan paripurna dalam mencuci baju. Akan lebih baik bila menjemur pakaian di tempat yang terkena sinar matahari secara langsung. Dengan panasnya sinar matahari tersebut maka tidak butuh waktu yang lama dalam mengeringkannya. Baju pun kini sudah siap untuk dipakai kembali.

Nah, beginilah tips atau cara mencuci baju secara Islami. Akhirnya kami mohon maaf bila ada salah dan kurangnya. Semoga artikel ini memberi manfaat kepada seluruh sobat semuanya. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Inilah Perbedaan Antara Nabi dan Rasul

perbedaan nabi dan rasul

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Bagaimana kabar teman-teman hari ini? Baik-baik saja bukan ? Alhamdulillah kalau begitu. Semoga selalu pula untuk bisa beribadah kepada Allah Swt. dengan baik dan terus bersemangat. Untuk memupuk iman supaya subur dan bertambah kuat , hendaknya selalu menuntut ilmu tiada henti. Ada banyak cara dalam mencari ilmu agama. Membaca buku agama Islam misalnya. Tema-tema keagamaan bisa kita temukan dalam berbagai buku. Judulnya bermacam-macam. Harganya pun juga amat bervariasi.

Bisa juga dengan membaca majalah , situs-situs kajian Islam di internet , atau buletin-buletin yang ada di masjid maupun mushola. Semua mengandung ilmu yang penting untuk diketahui. Mendatangi pengajian dan majelis taklim lebih bagus lagi. Karena banyak nilai tambahnya di dalam kegiatan tersebut. Ada hikmah silaturahim di dalam acara itu. Bertambah teman-teman dari orang-orang yang shalih.

Banyak sekali hal yang kita mesti pelajari. Dari masalah bagaimana shalat yang benar, berpuasa , zakat , haji dan umrah, serta banyak lagi yang lain. Salah satu pengetahuan yang perlu kita tahu yakni masalah apa saja perbedaan nabi dan rasul. Kita tahu iman kepada rasul dan nabi merupakan bagian rukun iman. Sehingga penting sekali kita untuk memahaminya bersama.

Nah, perbedaan dari keduanya antara lain:

  1. Nabi mendapat wahyu hanya untuk dirinya sendiri, tanpa ada kewajiban untuk menyampaikan kepada orang lain. Nah, kalau rasul, di samping mendapat wahyu untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki kewajiban untuk menyampaikan risalah itu kepada umatnya atau orang lain.
  2. Setiap Rasul adalah juga seorang Nabi. Akan tetapi, setiap Nabi belum tentu Rasul.

Semoga sedikit penjelasan ini bermanfaat bagi para pembaca. Selamat ngaji sobat semua. Tiada hari untuk selalu belajar.