Doa Berbuka Puasa Lengkap Arab Latin Artinya

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Alhamdulillah hari ini kita diberi banyak nikmat oleh Allah subhanallahu wa ta’ala. Dari semenjak bangun tidur hingga kita kembali tidur lagi kita berlimpah nikmat dan karunia. Tidak akan mampu kita menghitung aneka nikmat tersebut. Betapa sepandai apa pun otak kita. Tetap tidak akan mampu menghitung besar dan banyaknya nikmat dari-Nya. Sampai-sampai kalau disuruh untuk menghitungnya maka tidak akan mampu kita manusia melakukannya. Sebab manusia itu sangat lemah. Maka, bersujud kita kepada Allah subhanallahu wa ta’ala. Kita akui bahwa kita lemah dan tiada mempunyai daya maupun upaya kecuali dengan pertolongan-Nya.

Rukun Islam itu ada lima. Pertama mengucapkan syahadat. Kedua mendirikan shalat wajib 5 waktu. Ketiga melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Keempat membayara zakat. Yang kelima ialah mengerjakan ibadah haji bagi yang mampu. Dari situ kita bisa tahu bahwa puasa itu termasuk dari rukun Islam. Setiap muslim yang taat selalu rutin menjalankan ibadah puasa wajib ini di bulan Ramadhan. Bulan ramadhan ini ada di dalam kalender penanggalan Hijriyah. Dan untuk sekarang ini sudah banyak orang yang memiliki kalendar yang ada penanggalan hijriyahnya dengan lengkap. Ada yang khusus penanggalan hijriyah dan ada pula yang campur antara penanggalan masehi serta hijriyah. Tidak sulit untuk bisa melihat kapan akan tiba bulan ramadhan jika kita punya kalender hijriyah tersebut.

Puasa ialah menahan diri dari minum, makan, serta berbagai aktivitas yang dapat menjadikan puasanya batal dengan batas waktu dari waktu adzan subuh hingga waktu maghrib. Tentu saja orang yang melakukannya harus berniat untuk menjalankannya ikhlas karena Allah Swt. Sebelum terbit fajar atau waktu subuh kita sudah harus berniat untuk menjalankannya. Dalam satu bulan dalam kalender hijriyah jumlahnya hari ada 30 dan 29. Sehingga lama menjalankan puasa selama sebulan penuh itu bisa 30 hari atau kadang hanya 29 hari. Ada hal-hal yang bisa merusak puasa. Diantaranya hal-hal yang mengakibatkan rusak puasa kita itu adalah berbicara kotor, marah, berdusta, menggunjing atau ghibah, mencela, dan berbagai kemaksiatan lainnya.

Bagi wanita yang datang bulan maka wajib untuk mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan. Bagi orang yang sedang sakit pun juga demikian. Bisa mengganti atau qada’ di selain bulan ramadhan. Orang yang sedang safar atau bepergian jauh pun dibolehkan untuk tidak berpuasa. Ukuran jauh ini kurang lebih 90 km. Konsekuensinya ia harus menggantinya di hari yang lain. Namun, bagi orang yang sudah sakit menahun dan tidak bisa diharapka lagi kesembuhannya serta tidak sanggup menjalankan puasa maka ia boleh tidak berpuasa dengan syarat membayar fidyah. Demikian pula bagi mereka yang sudah berusia lanjut dan tak kuat menjalankan ibadah puasa wajib ini. Fidyah adalah memberi makanan pokok sebesar 3/4 liter setiap hari kepada fakir miskin. Jumlah harinya disesuaikan dengan jumlah hari yang ia tidak berpuasa.

Puasa itu nikmat. Puasa juga dapat menyehatkan tubuh. Kita bisa mengambil banyak hikmah dari puasa yang dijalani. Bahkan, bila kita mungkin merasa makan kurang terasa enak, maka di waktu berbuka puasa akan merasakan nikmatnya makan. Bila tidak percaya, silakan dicoba saja. Sesuai sunah, tidak lupa kita juga mesti membaca doa berbuka puasa pada saat itu. Mengenai lafazh doanya ialah :

Doa Berbuka Puasa Lengkap Arab Latin Artinya

Latinnya :
DZAHA BAZHZHAMA U WABTALATIL ‘URUUQU, WA TSABATAL AJRU INSYAA ALLAH.
Artinya :
” Telah hilang dahaga dan urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

Doa ini diambil dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Jika kita menyimak doanya maka kita akan mengatakan sangat pendek doanya. Akan begitu mudah untuk menghafalkan doa yang pendek ini. Tidak perlu membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk bisa hafal dengan baik. Setelah hafal maka memang perlu untuk mengajarkan pula bacaan doa ini kepada saudara, keluarga maupun teman-teman. Sukses untuk puasanya sehingga akan terbentuklah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah subhahanu wa ta’ala. Persis sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”. Dari ayat tersebut dijelaskan bahwasannya tujuan dari orang berpuasa itu salah satunya membentuk diri menjadi orang yang bertakwa. Beruntunglah orang-orang seperti ini.

Ada seseorang yang kemudian bertanya mengenai masalah doa saat berbuka puasa ini. Pertanyaan yakni kapan membacanya. Saat sebelum makan atau minum ketika berbuka puasa atau sesudah makan atau minum ketika berbuka puasa? Ini memang sebuah pertanyaan yang bagus sekali. Amat penting memang mengetahui akan hal yang demikian. Kita akan membahasnya juga di sini. Bacaan doa berbuka puasa di atas dibaca tepatnya setelah kita membatalkan puasa atau saat berbuka puasa pertama. Misalnya kita berbuka pertama dengan minum maka sesudah itu langsung membaca doa tersebut. Jikalau pada waktu berbuka kita minum air putih tiga tegukkan maka setelah selesai minum itu langsung membaca doa. Jika saat berbuka kita langsung makan buah kurma atau buah pisang maka sesudahnya kita langsung membaca doa seperti di atas. Kesimpulannya doa ini dibaca tidak sebelum minum atau makan dalam berbuka puasa. Akan tetapi malah sesudahnya. Untuk sebelumnya kita membaca doa sebelum makan seperti biasanya.

Sobat ngaji semua tentu sangat berharap puasa wajibnya sukses dikerjakan. Ibadah puasa wajib di bulan ramadhan ini memang setiap tahun sekali dilaksanakan. Buah ibadah yang sukses tentu akan nampak pada perilaku diri kita yang semakin baik dan mantap dalam menjalani hidup. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Bacaan Doa Berlindung Dari Malas Latin dan Artinya

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Teman-teman tentu sudah sering mendengar kata malas. Di dunia ini, terlalu banyak orang yang mengucapkan kata malas. Tak terhitung jumlahnya. Sulit sekali menghitungnya. Mereka ada di sekitar kita. Karenanya, kata tersebut sudah tak asing lagi di indera dengar kita. Pada umumnya kata ini dijadikan alasan orang yang tidak mau disuruh melakukan pekerjaan tertentu. Meski pekerjaan tersebut sebetulnya tidak sulit atau amat ringan bahkan. Pekerjaan yang sederhana dan tidak rumit sama sekali. Malahan tugas atau pekerjaan tersebut adalah kewajibannya juga sebetulnya.

Kita bisa mengambil contoh di kehidupan nyata. Peristiwa tersebut ada di sekitar kita. Kejadiannya juga umum dalam kehidupan sehari-hari. Misal ada seorang kakak meminta untuk adiknya membersihkan kamarnya. Tidak jarang sang adik tidak mau melakukannya. Alasannya cukup dengan satu kata yaitu malas. Ada juga murid yang disuruh mengerjakan PR (pekerjaan rumah). Setelah hari berikutnya ditanya, sudahkah mengerjakan tugas PR tersebut. Anak tersebut menjawabnya belum sama sekali. Setelah ditanya mengapa hal itu dilakukannya. Sang murid menjawab karena malas. Ia malas belajar di rumah. Ada pula seorang karyawan yang kurang disiplin dalam menyelesaikan tugasnya. Sesudah ditanya bosnya, ia menjawab karena malas.

Itulah berbagai fenomena malas di kehidupan nyata. Amat sering terjadi. Tentu hal ini tidak ingin terjadi kepada kita semua. Meskipun kemarin atau dahulu kita pernah mengalami malas. Hari ini dan hari esok kita ingin terhindarkan dari penyakit malas. Sifat malas memang mengganggu produktivitas belajar dan pekerjaan. Mengganggu anak-anak dan siapa saja yang ingin meraih ilmu. Malas belajar menjadikan kita bodoh dan terbelakang secara ilmu. Malas dalam bekerja kita akan kehilangan pendapatan yang cukup. Banyak akibat buruk lainnya dari sifat malas itu.

Salah satu tips untuk menanggulangi malas ialah dengan memperkuat niat dan semangat. Menguatkan tekad untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Juga tidak kalah penting bahwa kita perlu mencari manfaat-manfaat dari apa yang akan kita kerjakan. Dengan begitu, akan muncul motivasi. Di samping itu, membaca doa berlindung dari malas sangatlah penting. Doa adalah senjatanya orang yang beriman. Maka tidak boleh meninggalkannya. Mengenai lafazh doanya ialah :

Bacaan Doa Berlindung Dari Malas Latin dan Artinya

Latinnya :
ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL ‘AJZI, WAL KASALI, WAL JUBNI, WAL HARAMI, WAL BUKHLI, WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QOBRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAATI.
Artinya :
” Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.”

Kita mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dilindungi dari rasa malas. Dengan kita mengetahui doanya maka tinggal kita membacanya. Banyak sekali waktu-waktu yang amat bagus untuk kita gunakan berdoa. Misalnya saja saat sesudah selesai melaksanakan shalat wajib yang lima waktu. Kita langsung baca doa tersebut. Atau bisa juga menggunakan waktu-waktu yang lainnya. Intinya, sangat penting untuk kita membaca doa di atas. Siapa saja amat memerlukan doa tersebut. Apa pun profesinya. Berapa pun usianya. Apabila kita seorang pelajar, maka bisa dijadikan doa ini menjadi doa anti malas belajar. Bila kita seorang pelajar, bisa dijadikan menjadi doa anti malas bekerja. Intinya kita ingin ditolong oleh Allah Subhanahu wa ta’ala agar terhindarkan dari kemalasan. Selanjutnya, kita akhirnya menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat. Amiin. Inilah yang menjadi tujuan mulia bagi setiap muslim. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Tips Supaya Karpet Di Masjid Tetap Wangi

Tips Supaya Karpet Di Masjid Tetap Wangi

Masjid merupakan tempat yang amat mulia. Di masjid itulah kita kaum muslimin melakukan ibadah setiap hari. Shalat wajib lima waktu dilaksanakan di dalam masjid selalu. Dari shalat subuh, dhuhur, asar, maghrib, dan shalat isya. Semuanya dikerjakan secara berjamaah di dalam masjid. Tidak lupa pula ketika hari jumat tiba. Shalat jumat yang banyak dihadiri oleh banyak kaum muslimin, baik itu anak-anak hingga para orang tua juga dikerjakan di dalam masjid. Tidak hanya untuk shalat saja. Aneka aktivitas lainnya juga banyak yang dikerjakan di masjid. Misalnya saja pengajian, pelatihan, membaca Al-Quran, dan musyawarah. Masjid tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim.

Setiap muslim pun hendaknya menjadi pemakmur masjid. Tidak hanya dalam arti membantu pembangunan masjid saja yang terkadang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi, ikut aktif dalam rangka rajin beribadah di dalam masjid. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 18 yang artinya, Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Sangatlah jelas dalam masalah tersebut. Orang-orang yang mau memakmurkan masjid tentulah ia orang yang beriman kepada Allah dan juga beriman kepada hari akhir. Semangat dalam memakmurkan masjid memang mesti selalu dijaga. Tidak hanya pada momen tertentu saja. Tak hanya kalau di bulan ramadhan saja kita memakmurkan masjid tetapi di luar bulan ramadhan pun diharapkan selalu juga memakmurkannya. Dikarenakan masjid ini tempat yang sering dikunjungi oleh orang-orang yang beribadah di dalamnya maka kondisi masjid pun harus tetap terawat dan terjaga.

Segala fasilitas masjid mesti harus baik kondisinya. Satu diantarai fasilitas di masjid ialah karpet. Hari ini sudah banyak sekali masjid yang memiliki karpet. Bahkan sudah amat jarang masjid yang tidak menggunakan karpet. Merawat karpet masjid pun kini menjadi hal yang harus dilakukan. Karpet masjid harus dalam kondisi bersih dan tetap wangi. Sehingga dengan demikian orang-orang yang beribadah shalat dan lainnya akan menjadi semakin senang dan nyaman. Untuk itu, kita perlu sekali tahu tips supaya karpet di masjid tetap wangi. Berikut ini beberapa tipsnya.

  1. Tidak lupa memasang keset di setiap pintu masuk masjid.
    Bahkan jumlah keset pun sebaiknya tidak hanya satu. Kita perlu memastikan seluruh orang yang mau masuk masjid untuk menginjakkan kakinya di keset terlebih dahulu. Sehingga ketika nanti masuk ke dalam masjid maka kakinya sudah dalam keadaan bersih betul. Kondisi seperti ini akan membuat karpet masjid lebih terjaga kebersihannya dan wanginya pun akan lebih awet dengan dalam kondisi bersih.
  2. Rutin dalam membersihkan karpet masjid.
    Setiap hari sebaiknya masjid selalu dibersihkan. Mengapa harus setiap hari? Sebabnya masjid ini dikunjungi oleh banyak orang di tiap harinya. Rumah kita yang hanya dihuni oleh beberapa anggota keluarga saja mesti dibersihkan setiap hari. Padahal hanya sedikit orang yang ada di dalamnya. Apalagi masjid yang besar dan jamaah yang mendatanginya banyak sekali. Buatlah jadwal harian dalam membersihkan karpet masjid. Misalnya saja dibuat jadwal setiap setelah selesai shalat asar atau sebelum shalat subuh karpet masjid dibersihkan. Kebersihan karpet masjid akan menjaganya untuk tetap wangi.
  3. Karpet masjid dijemur di tempat yang panas.
    Melakukan penjemuran terhadap karpet masjid dirasa sangatlah penting. Dengan begitu maka karpet masjid bisa lebih mudah untuk dibersihkan. Juga karpet masjid akan lebih awet wanginya. Sebaiknya dibuat jadwal rutin dalam menjemur karpet ini. Paling tidak dalam satu bulan mesti dilakukan penjemuran sekali atau dua kali. Ketika habis dijemur maka debu yang tertempel akan lebih mudah dibersihkan.
  4. Menggunakan vacum cleaner dalam membersihkannya.
    Alat vacum cleaner sangat efektif dalam membersihkan karpet masjid. Cukup dengan alat ini yang disapukan ke seluruh permukaan karpet masjid. Dengan begitu semua kotoran yang ada di karpet menjadi tersedot di vacum cleaner. Kita pun sebaiknya memilih vacum cleaner yang berkualitas bagus. Hal ini agar hasilnya pun bagus dan tidak merusak tekstur permukaan karpet masjid.
  5. Memberi wewangian secara berkala.
    Ketika karpet masjid telah selesai dibersihkan maka selanjutnya perlu diberikan wewangian secukupnya. Pilih wewangian yang bagus. Wewangian yang dipilih pun yang khusus. Artinya wewangian tersebut khusus digunakan untuk karpet masjid.

Demikian beberapa tips yang bisa kita praktekkan dalam rangka membuat karpet masjid bisa tetap wangi. Kondisi karpet yang wangi ini akan membuat para jamaah semakin nyaman beribadah di dalam masjid.

Hukum Tajwid Surat Ali-Imran Ayat 190-191 Dengan Penjelasannya

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Kali ini kita akan membahas analisis hukum tajwid dari Surat Ali-Imran ayat 190-191 dengan lengkap. Ada penjelasannya juga tentang hukum-hukum tajwid di dalamnya. Tidak lupa, kami mendoakan semoga sobat ngaji semua selalu dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apa pun pada hari ini. Hari yang amat cerah ini bisa kita manfaatkan untuk melakukan aneka aktivitas yang bermanfaat. Banyak sekali sebetulnya aktivitas yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang memang perlu kita tambah porsi waktu bagi beberapa aktivitas yang manfaat itu. Seperti pada kali ini kita akan mengkaji tentang hukum tajwid dari ayat Al-Quran. Baiklah, kita langsung simak saja berikut ini.

Hukum Tajwid Surat Ali-Imran Ayat 190-191 Dengan Penjelasannya

Keterangan dari nomor-nomor di atas adalah:

  1. اِنَّ hukumnya ghunnah sebab huruf nun bertasydid, untuk cara membacanya dengan dengung serta ditahan selama 3 harakat.
  2. فِيْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf fa’ berharakat kasroh bertemu ya sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  3. السَّمٰوٰ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah sin. Dibaca idgham (masuk ke huruf sin).
    4.السَّمٰوٰ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  4. السَّمٰوٰ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf wau berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  5. وَاخْتِلَافِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  6. الَّيْلِ hukumnya Mad layin atau mad lin karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf lam berharakat fathah.
  7. النَّهَارِ hukumnya ghunnah sebab huruf nun bertasydid, untuk cara membacanya dengan dengung serta ditahan selama 3 harakat. Juga alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah nun. Dibaca idgham (masuk ke huruf nun).
  8. النَّهَارِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ha berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  9. لَاٰ hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  10. يٰتٍ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ya’ berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  11. يٰتٍ لِّاُ hukumnya Idgham bilaghunnah karena huruf ta’ berharakat kasrah tanwin bertemu huruf lam tasydid. Dibaca lebur tanpa dengung dan bunyi tanwin menjadi hilang.
  12. الْاَ لْبَابِ hukumnya Mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya panjang 2 sampai 6 harakat.
  13. الْاَ لْبَابِ hukumnya Qalqalah kubra karena huruf qalqalah qaf diwaqaf. Cara membacanya dipantulkan lebih tebal.
  14. اَلَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat kasroh bertemu ya sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  15. كُرُوْنَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ra’ berharakat dhammah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  16. كُرُوْنَ اللهَ hukumnya Tafkhim karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah berharakat fathah. Cara membacanya tebal.
  17. قِيَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ya’ berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  18. مًا وَّ hukumnya Idgham bighunnah karena huruf mim berharakat fathah tanwin bertemu huruf wau. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  19. قُعُوْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ‘ain berharakat dhammah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  20. دًا وَّ hukumnya Idgham bighunnah karena huruf dal berharakat fathah tanwin bertemu huruf wau. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat.
    22.عَلٰى hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  21. جُنُوْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf nun berharakat dhammah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  22. بِهِمْ وَ hukumnya Idhzar syafawi karena huruf mim sukun bertemu huruf wau. Dibaca jelas tidak berdengung sama sekali.
  23. يَتَفَكَّرُوْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ra’ berharakat dhammah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  24. فِيْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf fa berharakat kasroh bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  25. السَّمٰوٰتِ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah sin. Dibaca idgham (masuk ke huruf sin).
  26. السَّمٰوٰتِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  27. السَّمٰوٰتِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf wau berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  28. رَبَّنَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf nun berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  29. مَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  30. خَلَقْتَ hukumnya Qalqalah sughra karena huruf qalqalah qaf disukun dan posisinya di tengah kalimat. Cara membacanya dipantulkan secara ringan.
  31. هٰذَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ha berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  32. هٰذَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  33. بَاطِلاً hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ba berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  34. بَاطِلاًۚ سُبْحٰنَكَ hukumnya ikhfa karena huruf lam alif berharakat fathah tanwin bertemu dengan huruf sin. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf sin.
  35. سُبْحٰنَكَ hukumnya Qalqalah sughra karena huruf qalqalah ba’ disukun dan posisinya di tengah kalimat. Cara membacanya dipantulkan secara ringan.
  36. سُبْحٰنَكَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf kha berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu huruf hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Untuk cara membacanya dengan panjang selama 2 harakat.
  37. فَقِنَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf nun berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  38. عَذَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  39. النَّارِ hukumnya ada tiga macam di sini, yakni: pertama hukumnya alif lam syamsiyah sebab huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah nun. Cara membacanya idgham (masuk ke huruf sin). Kedua hukumnya ghunnah sebab huruf nun berharakat tasydid. Mengenai cara membacanya dengan ghunnah serta ditahan selama 3 harakat. Dan yang ketiga hukumnya mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Kemudian untuk cara membacanya panjang selama 2 sampai 6 harakat.

Dengan hasil analisis tajwid seperti di atas, maka kita akan terbantu dalam membaca ayat 190-191 dari Surat Ali-Imran tersebut. Belajar memang tidak ada waktu batasnya. Usia tua pun masih sangat bisa untuk dipakai menuntut ilmu. Usia tidak menghalangi mereka yang ingin menuntut ilmu. Ketika ada waktu dan kesempatan maka bisa diisi untuk belajar suatu ilmu yang bermanfaat. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Doa Iftitah Dalam Sholat Lengkap Latin Dan Artinya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Tiap hari kita sebagai seorang muslim menjalankan ibadah shalat wajib yang lima waktu. Sedari kecil idealnya seseorang mulai melaksanakan ibadah sholat ini. Pendidikan mengenai ibadah ini sudah harus dimulai semenjak anak masuk usia tujuh tahun. Sebelum itu sudah boleh diajarkan tentang masalah ibadah shalat. Lebih sedini mungkin akan lebih baik. Caranya mungkin dengan hal-hal yang sederhana. Anak tidak merasa diajari tentang shalat. Meskipun sebenarnya ia sedang dididik secara tidak langsung untuk mengetahui caranya shalat itu bagaimana. Salah satu cara mengajari anak untuk shalat ialah mengajak mereka untuk membersamai orang tua dalam shalat. Ketika ayah dan ibunya mengerjakan shalat, ajaklah sang buah hati untuk ada di dekat mereka. Meski pun sang anak belum bisa atau mau melakukan shalat seperti kita tidaklah masalah. Karena memang usia mereka masih kecil. Belum saatnya untuk berkewajiban mengerjakan shalat.

Misalnya saja anak kita suruh duduk di samping kita. Dengan mereka duduk di dekat kita mendirikan shalat maka mereka akan melihat dengan mata dan kepala sendiri bagaimana kita mengerjakan shalat. Seperti apa berdirinya? Lalu bagaimana cara mengangkat tangan saat takbiratul ihram? Kemudian bagaimana saat ruku dan sujud? Hingga akhirnya menengok ke arah kanan dan kiri dan mengucapkan salam. Ini semua bisa dilihat dengan lengkap tanpa media apa pun. Cukup anak ada di dekat orang tuanya saat shalat. Dan umumnya anak itu akan ingin selalu dekat dengan ayah dan ibunya. Meskipun mungkin shalatnya agak lama bagi si anak, tetapi anak tersebut akan tetap setia menunggui orang tuanya sedang shalat. Apalagi dengan si ibu. Biasanya dengan sang ibu anak kecil itu dekat sekali.

Model pendidikan seperti ini amat sederhana namun sangat efektif bagi perkembangan si buah hati. Terutama perkembangan dalam kehidupan beragamanya. Yang menjadi salah satu hal penting atau kewajiban utama yang mesti segera diajarkan kepada si buah hati yakni shalat wajib lima waktu. Dari shalat subuh, dhuhur, asar, maghrib, isya dan subuh. Masing-masing ada gerakan dan bacaanya yang harus dipelajari dengan baik. Setelah kami sampaikan pentingnya mendidik anak-anak dengan agama atau ibadah yang benar. Selanjutnya kita fokuskan di sini tentang pembahasan mengenai bacaan shalat sesuai sunah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Pada kesempatan kali ini kami tidak membahas seluruh bacaan di dalam shalat dari awal hingga akhir. Tetapi yang akan kami fokuskan ialah mengenai doa atau bacaan iftitah di dalam shalat. Permasalahan doa iftitah ini bukan hal yang sepele. Membacanya termasuk hal yang disunahkan. Sehingga sangatlah penting untuk kita memperhatikan doa tersebut. Yang paling penting untuk pertama kali yakni kita mengetahui lafazh doanya. Mengenai bacaa doanya yakni:

Doa Iftitah Dalam Sholat Lengkap Latin Dan Artinya

Latinnya :
WAJJAHTU WAJ-HIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIINA. INNA SHALAAATII WA NUSUKII, WA MAHYAAYA WA MAMAATII LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIINA. LAA SYARIIKALAHU WA BI DZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIINA. ALLAHUMMA ANTAL MALIKA LAA ILAHA ILLAA ANTA ANTA RABBII WA ANA ‘ABDUKA ZHALAMTU NAFSII WA ‘TARAFTU BIDZANBII FAGH FIRLII DZUNUUBII JAMII’AN INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQI LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI AHAA ILLA ANTA, LABBAIKA WA SA’DAIKA, WAL KHAIRU KULLUHU BI YADAIKA, WASYARRU LAISA ILAIKA, ANA BIKA WA ILAIKA TABAARAKTA WA TA’AALAITA, ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK.

Untuk arti atau terjemahan dalam bahasa Indonesia dari doa tersebut adalah:
Aku menghadap kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, dengan memegang agama yang lurus dan aku tidak tergolong orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalat, ibadah dan hidup serta matiku adalah untuk Allah. Tuhan seru sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan karena itu, aku diperintah dan aku termasuk orang-orang muslim.
Ya Allah, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, engkau Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menganiaya diriku, aku mengakui dosaku (yang telah kulakukan). Oleh karena itu ampunilah seluruh dosaku, sesungguhnya tidak akan ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Tunjukkan aku pada akhlak yang terbaik, tidak akan menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Hindarkan aku dari akhlak yang jahat, tidak akan ada yang bisa menjauhkan aku daripadanya, kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu dengan kegembiraan, seluruh kebaikan di kedua tangan-Mu, kejelekan tidak dinisbahkan kepada-Mu. Aku hidup dengan pertolongan dan rahmat-Mu, dan kepada-Mu (aku kembali). Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

Kemudian doa iftitah yang lainnya:

Doa Iftitah Dalam Sholat Lengkap

Latinnya :
ALLAAHUMMA RABBA JIB-RILA WA MIIKAAIILA, WA ISRAAFIILA FAA THIRASSAMAA WAATI WAL ARDHI, ‘AALIMAL GHAIBI WASYAHAADATI ANTA TAHKUMU BAINA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIFI YAKHTALIFUUNA. IHDINII LIMAKH TULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI IDZNIKA TAJDII MANTASYAA U ILA SHIRAATHIM MUSTAQIIM.
Untuk artinya atau terjemahannya adalah
“Ya Allah, Tuhan Jibrail, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki”.

Atau bisa pula dengan membaca sebagai berikut :

Doa Iftitah Dalam Sholat

Latinnya :
ALLAHUMMA BAA’ID BAINII WA BAINA KHATHAA YAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLAHUMMA NAQQINII MIN KHATAAYAAYA KAMAA YUNAQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAHUMAGH SILNII MIN KHATHAA YAAYA BIL MAA’I WATS TSALJI WAL BARAD.
Artinya atau terjemahannya adalah:
“Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan- kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan air es”.

Nah, demikian beberapa macam doa iftitah secara lengkap arab latin maupun juga dengan artinya. Memang ketika kita melaksanakan shalat wajib lima waktu, doa tersebut tidak kita baca secara jahr atau keras. Sehingga anak kita pun tidak mendengar bacaan kita. Namun, saat kita telah selesai mengerjakan shalat maka bisa dipakai untuk mengajarkannya kepada anak-anak. Semoga anak-anak kita menjadi insan yang taat beribadah dan berakhlak mulia. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Hukum Tajwid Surat Al-Anfal Ayat 72 Dilengkapi Penjelasannya

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Di sore hari ini cuaca amat cerah. Secerah wajah sobat ngaji semuanya. Syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan nikmat yang sangat banyak kepada kita para hamba-Nya. Sobat semua, pada waktu sore ini kami akan menganalisis hukum tajwid dari Al-Quran Surat Al-Anfal ayat 72. Tentu saja dilengkapi pula dengan alasan dan juga penjelasannya. Semua ini diperuntukan khususnya untuk para sobat yang ingin mengetahui hukum-hukum tajwid pada ayat Al-Quran tersebut. Baiklah kita simak saja langsung analisis tajwidnya berikut ini.

Hukum Tajwid Surat Al-Anfal Ayat 72 Dilengkapi Penjelasannya

Keterangan lengkap dari analisis tajwid tersebut adalah:

  1. اِنَّ hukumnya Ghunnah karena nun bertanda tasydid dan cara membacanya dengan dengung serta ditahan selama 3 harakat.
  2. الَّذِيْنَ hukumnya Alif lam syamsiyah sebab huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah lam. Dibaca idgham (masuk ke huruf lam).
  3. الَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  4. اٰمَنُوْا hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  5. اٰمَنُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i sebab huruf nun berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu huruf hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya dipanjangkan selama 2 harakat.
  6. وَهَاجَرُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ha berharakat fathah bertemu alif dan sesudahnya tidak bertemu huruf hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  7. وَهَاجَرُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ra berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  8. وَجَاهَدُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf jim berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  9. وَجَاهَدُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dal berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  10. بِاَمْوَا hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf wau. Cara membacanya dengan jelas.
  11. بِاَمْوَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ha berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  12. بِاَمْوَالِهِمْ وَ hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf wau. Cara membacanya dengan jelas.
  13. اَنْفُسِهِمْ hukumnya Ikhfa karena huruf nun sukun bertemu huruf fa’. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf fa’.
  14. فِيْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf fa’ berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu huruf hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya dipanjangkan 2 harakat.
  15. سَبِيْلِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ba’ berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  16. سَبِيْلِ اللّٰهِ hukumnya Tarqiq karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah lam berharakat kasrah. Cara membacanya tipis.
  17. وَالَّذِيْنَ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah lam. Dibaca idgham (masuk ke huruf lam).
  18. وَالَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  19. اٰوَوْا وَّ hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  20. وَوْا hukumnya Mad layin atau lin karena huruf wau sukun didahului oleh huruf wau berharakat fathah. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  21. وَّنَصَرُوْۤا hukumnya Mad jaiz munfasil alasannya karena huruf mad bertemu hamzah di lain kata. Dibaca panjang selama 2, 4 atau 5 harakat.
  22. اُولٰٓىِٕكَ hukumnya Mad wajib muttashil alasannya karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata. Dibaca panjang 4 atau 5 harakat.
  23. بَعْضُهُمْ اَ hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf hamzah. Cara membacanya dengan jelas.
  24. اَوْلِيَآءُ hukumnya Mad layin atau lin karena huruf wau sukun didahului oleh huruf hamzah berharakat fathah. Dibaca panjang selama 2 harakat.
  25. اَوْلِيَآءُ hukumnya Mad wajib muttashil alasannya karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata. Dibaca panjang 4 atau 5 harakat.
  26. وَالَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  27. اٰمَنُوْا hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  28. اٰمَنُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf nun berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu huruf hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya dipanjangkan selama 2 harakat.
  29. وَلَمْ يُهَا hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf ya’. Cara membacanya dengan jelas.
  30. وَلَمْ يُهَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ha berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu huruf hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  31. جِرُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ra berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  32. مَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  33. لَكُمْ مِّنْ hukumnya Idgham mislain karena huruf mim bersukun bertemu huruf mim. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  34. مِّنْ وَّ hukumnya Idgham bighunnah karena huruf nun sukun bertemu huruf wau. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  35. لَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  36. يَتِهِمْ مِّنْ hukumnya Idgham mislain karena huruf mim bersukun bertemu huruf mim. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  37. مِّنْ شَيْ hukumnya Ikhfa karena huruf nun sukun bertemu huruf syin. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf fa’.
  38. شَيْ hukumnya Mad layin atau lin karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf syin berharakat fathah. Dibaca panjang selama 2 harakat.
  39. شَيْءٍ حَتّٰى hukumnya Idzhar sebab huruf hamzah berharakat kasrah tanwin bertemu huruf ha’. Dibaca jelas tidak berdengung sama sekali.
  40. حَتّٰى hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ta’ berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  41. يُهَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ha berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  42. جِرُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ra berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  43. وَاِنِ اسْتَنْصَرُوْ hukumnya Ikhfa karena huruf nun sukun bertemu huruf shad. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf shad.
  44. وَاِنِ اسْتَنْصَرُوْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ra berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  45. كُمْ فِى hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf fa’. Cara membacanya dengan jelas.
  46. الدِّيْنِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dal berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  47. فَعَلَيْكُمُ hukumnya Mad layin atau lin karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf lam berharakat fathah. Dibaca panjang 2 harakat.
  48. النَّصْرُ hukumnya di sini ada dua. Pertama, alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah nun. Dibaca idgham (masuk ke huruf nun). Kedua, ghunnah karena nun bertanda tasydid dan cara membacanya dengan dengung serta ditahan 3 harakat.
  49. اِلَّا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  50. عَلٰى hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  51. قَوْ hukumnya Mad layin atau lin karena huruf wau sukun didahului oleh huruf qaf berharakat fathah. Dibaca panjang 2 harakat.
  52. قَوْمٍۢ بَيْنَكُمْ hukumnya Iqlab karena huruf sin berharakat fathah tanwin bertemu huruf ba. Cara membacanya dengan tanwin berubah menjadi mim dan berdengung serta ditahan selama 3 harakat.
  53. بَيْنَكُمْ hukumnya Mad layin atau lin karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf ba’ berharakat fathah. Dibaca panjang selama 2 harakat.
  54. بَيْنَكُمْ وَ hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf wau. Cara membacanya dengan jelas.
  55. بَيْنَهُمْ hukumnya Mad layin atau lin karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf ba’ berharakat fathah. Dibaca panjang selama 2 harakat.
  56. وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَا hukumnya Idgham mislain karena huruf mim bersukun bertemu huruf mim. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  57. وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  58. مِّيْثَاقٌ hukumnya Mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya panjang 2 sampai 6 harakat.
  59. مِّيْثَاقٌ hukumnya Qalqalah kubra karena huruf qalqalah qaf diwaqaf. Cara membacanya dipantulkan lebih tebal.
  60. وَاللّٰهُ hukumnya Tafkhim karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah wau berharakat fathah. Cara membacanya dengan tebal.
  61. بِمَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  62. تَعْمَلُوْ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  63. بَصِيْرٌ hukumnya Mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya panjang selama 2 sampai 6 harakat.

Begitu lengkap dan mudah dipahami. Kami tentu akan turut berbahagia bila tulisan ini memberi manfaat bagi banyak orang. Harapannya memang semoga artikel ini benar-benar bermanfaat. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Hukum Tajwid Al-Quran Surat Al-Hujurat Ayat 12

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Sobat ngaji semua yang berbahagia. Kali ini kita akan membahas hukum tajwid Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 12. Tentunya dilengkapi pula dengan penjelasan yang bisa memudahkan sobat untuk memahaminya. Lebih dari itu, kita pun dapat menambah wawasan keilmuan dengan membaca hasil analisis tajwid tersebut. Baiklah, kita langsung saja menyimaknya berikut ini.

Hukum Tajwid Al-Quran Surat Al-Hujurat Ayat 12

Penjelasan hukum bacaan di atas yaitu:

  1. يٰۤاَ hukumnya Mad jaiz munfasil alasannya karena huruf mad bertemu hamzah di lain kata. Dibaca panjang 2 , 4 atau 5 harakat.
  2. الَّذِيْنَ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah lam. Dibaca idgham yakni masuk ke huruf lam.
  3. الَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf dzal berharakat kasroh bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  4. اٰمَنُوا hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  5. جْتَنِبُوْا hukumnya Qalqalah sughra karena huruf qalqalah jim disukun dan posisinya di tengah kalimat. Cara membacanya dipantulkan secara ringan.
    6.جْتَنِبُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf ba’ berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  6. كَثِيْرًا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf tsa berharakat kasroh bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  7. كَثِيْرًامِّنَ hukumnya Idgham bighunnah karena huruf ra’ berharakat fathah tanwin bertemu huruf mim. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  8. الظَّنِّ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah zha. Dibaca idgham yakni masuk ke huruf zha.
  9. الظَّنِّ hukumnya ghunnah sebab huruf nun berharakat tasydid. Cara membacanya dengan berdengung serta ditahan selama 3 harakat.
  10. اِنَّ hukumnya ghunnah sebab huruf nun berharakat tasydid. Cara membacanya dengan berdengung serta ditahan selama 3 harakat.
  11. الظَّنِّ hukumnya ghunnah sebab huruf nun berharakat tasydid. Cara membacanya dengan berdengung serta ditahan selama 3 harakat.
  12. اِثْمٌ وَّ hukumnya Idgham bighunnah karena huruf mim berharakat dhamah tanwin bertemu huruf wau. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  13. لَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  14. تَجَسَّسُوْا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf sin berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  15. لَا hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf lam berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  16. يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ hukumnya Idgham mutamatsilain karena huruf ba’ bersukun bertemu huruf ba berharakat fathah.
  17. بَّعْضُكُمْ بَعْضًا hukumnya Ikhfa syafawi karena huruf mim sukun bertemu huruf ba’. Dibaca samar dengan dengung ditahan selama 3 harakat. Ada juga yang berpendapat cukup ditahan 2 harakat.
  18. بَعْضًا hukumnya Mad mad ‘iwadh karena huruf dlad berharakat fathah tanwin dan diwaqaf. Cara membacanya tanwin dihilangkan dan panjangnya 2 harakat.
  19. كُمْ اَ hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf hamzah. Cara membacanya dengan jelas.
  20. اَنْ يَّأْكُلَ hukumnya Idgham bighunnah karena huruf nun sukun bertemu huruf ya’. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.
  21. اَخِيْهِ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf kha berharakat kasroh bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  22. مَيْتًا hukumnya Mad layin atau mad lin karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf mim berharakat fathah. Karena di tengah ayat berarti panjangnya cukup selama 2 harakat.
  23. مَيْتًا فَكَرِ hukumnya Ikhfa karena huruf ta’ berharakat fathah tanwin bertemu huruf fa’. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan 3 harakat. Ada pula yang berpendapat cukup 2 harakat menahannya.
  24. فَكَرِهْتُمُوْهُ hukumnya Mad asli atau mad thobi’i karena huruf mim berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  25. وَاتَّقُوااللّٰهَ hukumnya Tafkhim karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah berharakat dhamah. Cara membacanya dengan ditebalkan.
  26. اِنَّ hukumnya ghunnah sebab huruf nun berharakat tasydid. Cara membacanya dengan berdengung serta ditahan selama 3 harakat.
  27. اِنَّ اللّٰهَ تَ hukumnya Tafkhim karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah berharakat fathah. Cara membacanya tebal.
  28. تَوَّا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf wau berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  29. بٌرَّ hukumnya Idgham bilaghunnah karena huruf ba’ berharakat dhamah tanwin bertemu huruf ra’. Dibaca lebur tanpa dengung. Bunyi tanwin hilang.
  30. تَوَّابٌرَّحِيْمٌ hukumnya Mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya panjang selama 2 sampai 6 harakat.

Demikian semoga bermanfaat untuk sobat pembaca semua. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Hukum Tajwid Surat Al-Hujurat Ayat 10

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Menganalisis hukum tajwid Surat Al-Hujurat ayat 10 menjadi hal penting untuk kita lakukan. Maka pada kesempatan yang baik ini kami akan menganalisisnya. Untuk selanjutnya hasil dari analisis tersebut kami tuliskan secara lengkap di sini. Harapannya dengan kita mengetahui analisis tajwid sebuah ayat Al-Quran maka kita akan bisa membacanya dengan benar sebab sudah mengetahui kaidahnya. Baiklah sobat ngaji semua, tanpa menunggu lama kita bisa simak langsung di bawah ini.

Hukum Tajwid Al-Quran Surat Al-Hujurat Ayat 10

Penjelasan atau keterangannya adalah:

  1. اِنَّمَا hukumnya Ghunah atau nun tasydid cara membacanya dengan ghunnah dan ditahan selama 3 harakat.
  2. مِنُوْنَ hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf nun berharakat dhammah bertemu huruf wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  3. اِخْوَةٌفَاَ hukumnya Ikhfa karena huruf ta berharakat dhammah tanwin bertemu huruf fa’. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Ada juga yang berpendapat juga cukup ditahan selama 2 harakat.
  4. فَاَ صْلِحُوْا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf ha’ berharakat dhammah bertemu huruf wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang selama 2 harakat.
  5. بَيْنَ hukumnya Mad layn karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf ba berharakat fathah. Dibaca panjang selama 2 harakat.
  6. اَخَوَيْكُمْ hukumnya Mad layn karena huruf ya’ sukun didahului oleh huruf wau berharakat fathah. Dibaca panjang 2 harakat.
  7. اَخَوَيْكُمْ وَ hukumnya Idhzar syafawi karena huruf mim sukun bertemu huruf wau. Untuk cara membacanya dengan jelas serta tidak berdengung sama sekali.
  8. تَّقُوااللّٰهَ hukumnya Tafkhim karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah yang berharakat dhamah. Cara membacanya tebal.
  9. لَعَلَّكُمْ تُرْ hukumnya Idhzar syafawi karena huruf mim sukun bertemu huruf ta. Dibaca jelas tidak berdengung sama sekali.
    10.تُرْحَمُوْنَ hukumnya Mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya dipanjangkan selama 2 sampai 6 harakat.

Sampai di sini semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat semua. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Hukum Tajwid Al-Quran Surat Al-Mujadilah Ayat 11

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Bertemu kembali dengan sobat semua. Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan begitu banyak nikmat. Satu bentuk wujud syukur kita terhadap nikmat itu ialah mempergunakannya di jalan kebaikan dan yang diridhai-Nya. Seperti pada kali ini kita akan belajar tentang Al-Quran. Kita di sini akan belajar mengenai analisis tajwid pada Surat Al-Mujadilah ayat 11 secara lengkap dengan alasan maupun penjelasannya. Baiklah, mari kita simak analisisnya.

Hukum Tajwid Al-Quran Surat Al-Mujadilah Ayat 11

Penjelasan lengkap dari nomor-nomor di atas adalah :

  1. يٰۤاَ hukumnya Mad jaiz munfasil alasannya karena huruf mad bertemu hamzah di lain kata. Dibaca panjang 2/ 4 atau 5 harakat.
  2. الَّذِيْنَ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah lam. Dibaca idgham (masuk ke huruf lam ).
  3. الَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf dzal berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  4. اٰمَنُوْۤا hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  5. اٰمَنُوْۤا hukumnya Mad jaiz munfasil alasannya karena huruf mad bertemu hamzah di lain kata. Dibaca panjang 2/ 4 atau 5 harakat.
  6. اِذَا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf dzal berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  7. قِيْلَ hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf qaf berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  8. لَكُمْ تَفَسَّحُوْا hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf ta’. Cara membacanya dengan jelas.
  9. لَكُمْ تَفَسَّحُوْا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf ha’ berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  10. الْمَجٰلِسِ hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf jim berharakat fathah tegak serta setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  11. فَافْسَحُوْا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf ha’ berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  12. يَفْسَحِ اللّٰهُ hukumnya Tarqiq karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah ha’ berharakat kasrah. Cara membacanya tipis.
  13. لَكُمْۚ وَ hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf wau. Kemudian untuk cara membacanya yakni dengan jelas.
  14. اِذَا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf dzal berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  15. قِيْلَ hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf qaf berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  16. قِيْلَ انْشُزُوْا hukumnya Ikhfa karena huruf nun sukun bertemu huruf syin. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf syin.
  17. قِيْلَ انْشُزُوْا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf zai berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  18. فَانْشُزُوْا hukumnya Ikhfa karena huruf nun sukun bertemu huruf syin. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf syin.
  19. فَانْشُزُوْا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf zai berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
    20.ْفَعِ اللّٰهُ hukumnya Tarqiq karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah ‘ain berharakat kasrah. Cara membacanya tipis.
  20. الَّذِيْنَ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah lam. Dibaca idgham (masuk ke huruf lam ).
  21. الَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf dzal berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  22. اٰمَنُوْا hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  23. اٰمَنُوْا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf nun berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
    25.مِنْكُمْ hukumnya Ikhfa karena nun sukun bertemu huruf kaf. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Cara pengucapan seperti bunyi “ng”.
  24. مِنْكُمْۙ وَ hukumnya Idzhar syafawi karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf wau. Cara membacanya dengan jelas.
  25. وَالَّذِيْنَ hukumnya Alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah lam. Dibaca idgham (masuk ke huruf lam ).
  26. وَالَّذِيْنَ hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf dzal berharakat kasrah bertemu ya’ sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  27. اُوْتُوا hukumnya Mad badal karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata akan tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf mad. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  28. دَرَجٰتٍ hukumnya Mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya dengan dipanjangkan 2 sampai 6 harakat. Tetapi kalau kita tidak berhenti di sini maka hukumnya menjadi mad thabi’i sebab huruf jim berharakat fathah tegak.
  29. وَاللّٰهُ hukumnya Tafkhim karena lafaz Allah didahului oleh huruf hijaiyah wau berharakat fathah. Cara membacanya tebal.
  30. بِمَا hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf mim berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  31. تَعْمَلُوْنَ hukumnya Mad asli atau mad thabi’i karena huruf lam berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.
  32. خَبِيْرٌ hukumnya Mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya dengan dipanjangkan 2 sampai 6 harakat.

Sampai di sini dulu sobat. Tetap bersemangat selalu bukan? Semoga analisis tajwid di atas memiliki manfaat yang besar untuk sobat pembaca semuanya. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

3 Perbedaan Kitab Dan Suhuf

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Kita sering mendapatkan pertanyaan mengenai masalah kitab dan suhuf. Memang keduanya sangatlah penting untuk dibahas. Dalam kajian kita kali ini kita akan membahasnya lebih detail. Sebelum beranjak kepada pembahasannya, ada baiknya sobat sekalian menyimak dalil tentang suhuf ini. Yakni pada Al-Quran Surat Al-A’la ayat 18-19.

Al-Quran Surat Al-A'la ayat 18-19

Ayat 18 artinya : Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,
Ayat 19 artinya : (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.

Terdapat pula dalil yang lainnya mengenai suhuf ini yaitu pada Al-Quran Surat An-Najm ayat 36-38.

Al-Quran Surat An-Najm ayat 36-38.

ayat 36 artinya: Ataukah belum diberitakan (kepadanya) apa yang ada dalam lembaran-lembaran (Kitab Suci yang diturunkan kepada) Musa?
ayat 37 artinya: Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?
ayat 38 artinya: (yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

Antara kitab dan suhuf memang memiliki perbedaan. Setidaknya terdapat 3 perbedaan kitab dan suhuf tersebut, yaitu:

  1. Mengenai bentuknya. Kitab bentuknya sudah dibukukan dengan baik. Sedangkan untuk suhuf bentuknya masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah.
  2. Mengenai isinya. Isi dari kitab jauh lebih lengkap dibanding dengan suhuf.
  3. Mengenai masa berlakunya. Kitab memiliki masa berlaku yang jauh lebih lama. Sedangkan untuk suhuf masa berlakunya tidak lama.

Dengan uraian di atas kita akan memahami dengan baik perbedaan dari kitab dan suhuf. Akhirnya sampai di sini dahulu pembahasan kita kali ini, sampai bertemu kembali pada pembahasan yang lainnya. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.